Kehidupan Santrawan Paparang: Seorang Advokat yang Berjuang untuk Keadilan
Santrawan Paparang adalah sosok yang tak asing bagi kalangan hukum di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Namanya dikenal luas sebagai pengacara yang memiliki karakter unik, yaitu kombinasi antara keras, berani, cerdas, dan penuh empati. Banyak orang menganggapnya sebagai contoh nyata dari seorang advokat yang tidak hanya memperjuangkan keadilan, tetapi juga menjunjung nilai-nilai moral dan spiritual dalam hidupnya.
Sebagai seorang advokat, Santrawan memiliki latar belakang keluarga yang terkait dengan dunia hukum. Ayahnya adalah seorang Jaksa, yang memperkenalkan dunia hukum kepada Santrawan sejak kecil. Namun, ia memilih jalan sendiri, yaitu menjadi seorang pengacara. Baginya, setiap manusia harus bertanggung jawab atas pilihan hidupnya, dan ia pun melakukannya dengan penuh komitmen.
Di bangku kuliah, Santrawan tidak hanya belajar teori hukum, tetapi juga aktif dalam praktik langsung. Ia bergabung dengan Lembaga Bantuan Hukum kampus dan mulai menyadari bahwa hukum bukan sekadar teks, tetapi sesuatu yang hidup dalam konflik dan perjuangan para pencari keadilan. Dari sini, ia membangun mental petarung yang kuat dan tangguh.
Pada masa studinya, Santrawan juga menunjukkan ketangguhan dan semangat juang yang luar biasa. Sementara banyak mahasiswa lain memilih untuk mengandalkan bantuan orang tua, ia memilih untuk meraih beasiswa. Berkat usaha dan ketekunan, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Bank Negara Indonesia dan Pertamina, sehingga mampu membiayai pendidikannya sendiri. Bahkan, ia tidak segan mengambil pekerjaan kecil untuk menambah penghasilan.
Kerja keras Santrawan akhirnya membuahkan hasil. Ia menjadi satu-satunya peserta yang lulus ujian praktik advokat di Pengadilan Tinggi Manado pada tahun 1994. Ini bukan sekadar kebetulan, tetapi panggilan hati yang membawanya ke jalur profesi hukum.
Meskipun peluang untuk menjadi hakim pernah datang, Santrawan tetap setia pada jalan hidupnya sebagai advokat. Ia percaya bahwa di sana ia bisa berjuang lebih luas dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.
Dari Manado, Santrawan melangkah ke Jakarta dan memperluas wewenangnya di panggung nasional. Salah satu kasus yang menonjol dalam kariernya adalah pembelaan terhadap Irjen Pol. Napoleon Bonaparte dalam perkara dugaan korupsi pengadaan helikopter AW 101 senilai hampir 1 triliun rupiah. Kasus ini ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Santrawan menunjukkan kemampuannya dalam memperjuangkan hak hukum klien secara profesional dan berintegritas.
Selain itu, ia juga aktif dalam membela hak minoritas, seperti kasus penyegelan rumah ibadah di Wilayah Teluknaga, Kabupaten Tangerang. Banyak perkara yang ia tangani tanpa memungut bayaran, karena ia percaya bahwa keadilan harus diperjuangkan tanpa pamrih.
Kehidupan Pribadi dan Spiritual
Santrawan tidak hanya dikenal sebagai advokat, tetapi juga sebagai seorang evangelis yang aktif berkhotbah. Ia menganggap pelayanan rohani sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Seperti sosok legenda hukum Indonesia, Yap Thiam Hien, ia percaya bahwa spiritualitas membentuk kepribadian yang baik dan menjaga agar tidak terlena dengan kesuksesan.
Selain itu, ia juga seorang family man. Di tengah kesibukannya, ia masih sempat membagi waktu bersama keluarganya. Istrinya, Henny Tambuwun, juga seorang pengacara. Anak-anaknya, Satrya dan Sanita, juga mengikuti jejak ayahnya. Satrya sedang menempuh program doktor ilmu hukum di Jakarta, sedangkan Sanita masih menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Trisakti. Meski ingin menjadi hakim, Sanita tetap berada di jalur hukum, seperti yang diinginkan ayahnya.
Kepemimpinan dan Pendidikan
Santrawan juga tercatat sebagai dosen di beberapa universitas ternama di Jakarta. Ia telah meraih predikat cum laude dalam berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari strata satu hingga doktoral. Selain itu, ia juga menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Gerakan Kristiani Indonesia Raya (GEKIRA).
Kesimpulan
Kisah Santrawan Paparang adalah kisah tentang kesetiaan pada satu titik koordinat, yaitu keadilan. Meskipun jalan pedang yang ia pilih penuh liku dan kerikil tajam, ia membuktikan bahwa integritas adalah satu-satunya kompas yang tidak pernah salah membawa seseorang pulang ke pelukan keluarga dan ke hadirat Sang Pencipta.












