Hukum  

Di Balik Kasus Guru Honorer Muaro Jambi, Tri Wulansari: Saya Tidak Tahu

Peristiwa Pendidikan yang Viral dan Proses Penyelesaiannya

Sebuah peristiwa pendidikan yang menarik perhatian masyarakat di kawasan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, viral di media sosial hingga menjadi topik pembicaraan nasional. Guru honorer SDN 21 Pematang Raman, Tri Wulansari (34), dilaporkan oleh orang tua murid hingga akhirnya menjadi tersangka. Kasus ini menarik perhatian DPR RI hingga Jaksa Agung turun tangan.

Kasus guru Tri Wulansari akhirnya selesai setelah adanya restorative justice (RJ) dan perdamaian antara kedua belah pihak. Persoalan bermula dari upaya penegakan disiplin dengan merazia rambut panjang siswa SDN 21 Pematang Raman pada awal 2025. Seorang siswa yang rambutnya diwarnai menolak dan kabur. Ia melontarkan kalimat tidak sopan ke guru Tri. Akibatnya, guru tersebut memberi tepukan pipi kepada siswa tersebut.

Orang tua murid kemudian melaporkan tindakan guru Tri ke polisi hingga berujung pada penetapan tersangka. Proses mediasi, pendampingan PGRI, hingga campur tangan pemerintah daerah belum berhasil menyelesaikan masalah. Kasus ini kemudian viral hingga naik ke tingkat nasional dan menjadi pembahasan Komisi III DPR RI.

Akhirnya, kasus berakhir dengan adanya restorative justice. Berikut adalah petikan wawancara guru honorer Tri Wulansari bersama Host Tribun Jambi, M Ferry Fadly, di program Saksi Kata:

Tribun:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kembali lagi bersama saya, M Ferry Fadly, di program Saksi Kata Tribun Jambi. Telah hadir di studio Tribun Jambi, Ibu Tri Wulansari (34), guru honorer SDN 21 Pematang Raman, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Terima kasih, Ibu Tri, sudah hadir.

Tri Wulansari:

Selamat siang, Tribunners.

Tribun:

Ibu Tri, kita mulai dari awal. Peristiwa ini terjadi Januari 2025. Bisa diceritakan secara singkat kronologi awalnya?

Tri Wulansari:

Iya, Bang. Sebelumnya mohon maaf, sebenarnya masalah ini sudah selesai. Saya hanya ingin menceritakan sedikit saja. Kejadiannya memang awal Januari 2025. Niat saya saat itu hanya satu, ingin anak-anak menjadi lebih baik dan lebih disiplin. Karena ini kan anak SD. Sekolah dasar itu pondasinya. Mau jadi apa anak nanti, itu dibentuk dari sini. Kalau dasarnya sudah bengkok, ke depannya akan susah diluruskan.

Tribun:

Berarti awalnya saat Ibu menegakkan disiplin, terjadi kesalahpahaman dengan murid, lalu berlanjut ke orang tua?

Tri Wulansari:

Iya. Saat itu murid sempat memberontak dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Dari situlah awal masalahnya, lalu orang tua melaporkan saya ke polisi.

Tribun:

Apakah sejak awal laporan itu masuk, sudah ada upaya penyelesaian secara kekeluargaan?

Tri Wulansari:

Sudah, Bang. Sejak Januari sebenarnya sudah beberapa kali mediasi. Saya sudah datang ke rumah orang tua murid untuk minta maaf. Dinas Pendidikan juga sudah membantu, PGRI turun, bahkan saya sempat meminta bantuan Bapak Bupati. Kesbangpol juga sudah memfasilitasi. Tapi waktu itu memang belum ada titik temu.

Tribun:

Lalu bagaimana ceritanya hingga kasus ini bisa sampai ke Jakarta dan bertemu Komisi III DPR RI?

Tri Wulansari:

Awalnya saya sendiri tidak tahu kalau kasus saya diberitakan. Saya malah dikabari sepupu kalau sudah viral. Dari situ rupanya berita itu sampai ke Pak Rocky Candra, anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra. Beliau yang langsung mencari informasi dan menghubungi saya. Saya tegaskan, saya tidak pernah meminta bantuan. Justru beliau yang menawarkan. Akhirnya saya disarankan ke Jakarta untuk bertemu Komisi III.

Tribun:

Saat itu status hukum Ibu bagaimana?

Tri Wulansari:

Laporan sudah masuk, tapi proses restorative justice belum dilakukan. Saya berangkat ke Jakarta dulu. Hari Senin berangkat, Selasa rapat dengan Komisi III, Rabu pagi pulang ke Jambi dan langsung ke Polres.

Tribun:

Dan di situlah proses restorative justice berlangsung?

Tri Wulansari:

Iya. Prosesnya berjalan lancar. Kapolres hadir, dari kejaksaan ada, dari Polda ada, dan wali murid juga hadir. Kurang lebih sekitar dua jam. Intinya, pihak wali murid ingin saya meminta maaf, dan itu sudah saya lakukan.

Tribun:

Sebelumnya, Ibu sempat ditetapkan sebagai tersangka. Apa yang Ibu rasakan saat itu?

Tri Wulansari:

Saya nangis, Bang. Pikiran saya bukan ke diri saya, tapi ke anak saya. Kalau saya ditahan, anak saya bagaimana? Itu yang paling berat. Tapi selama proses itu, Alhamdulillah saya tidak mendapat intimidasi. Saya tetap mengajar. Sekolah mendukung, PGRI mendukung, Dinas Pendidikan juga.

Tribun:

Apakah Ibu sempat trauma atau takut untuk mengajar lagi?

Tri Wulansari:

Kalau trauma, tidak. Alhamdulillah tidak. Saya cuma lebih berhati-hati. Tapi mengajar tetap jalan, karena ini panggilan hati.

Tribun:

Dalam rapat di Komisi III, ada poin penting soal perlindungan guru. Bisa dijelaskan?

Tri Wulansari:

Iya. Undang-Undang Perlindungan Anak sudah ada, tapi perlindungan untuk guru belum kuat. Di sana dibahas agar guru memiliki semacam imunitas profesi, seperti dokter atau aparat, supaya guru tidak takut mendidik. Bukan untuk membenarkan kekerasan, tapi agar guru tidak serba salah saat mendidik.

Tribun:

Sebagai pendidik, apa hikmah terbesar yang Ibu ambil dari peristiwa ini?

Tri Wulansari:

Ini pembelajaran hidup yang sangat besar. Saya tidak pernah menyangka bisa sampai viral dan bahkan ke DPR RI. Saya belajar untuk lebih berhati-hati, lebih sabar, dan mencari metode yang sesuai dengan anak-anak sekarang, khususnya Gen Alpha.

Tribun:

Pesan terakhir untuk sesama guru dan orang tua?

Tri Wulansari:

Untuk guru, tetaplah mendidik dengan hati dan kesabaran. Untuk orang tua, mari objektif melihat persoalan. Anak SD itu dunianya masih bermain. Pendidikan pertama tetap di rumah, sekolah hanya melanjutkan.

Tribun:

Terima kasih, Ibu Tri, atas keterbukaan dan keteguhannya sebagai pendidik. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bersama dan tidak terulang kembali. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?