Hukum  

AKBP Arif Fazlurrahman, Kapolres Lamongan yang Viral dengan Penyamaran sebagai Warga

Pengalaman Pahit AKBP Arif Fazlurrahman Saat Menyamar Jadi Warga Biasa

AKBP Arif Fazlurrahman kini menjadi sorotan publik setelah membagikan pengalaman pahitnya saat menyamar sebagai warga biasa dan melaporkan kehilangan sepeda ke kantor polisi, namun justru mendapat perlakuan yang dingin dan tidak manusiawi. Kini menjabat sebagai Kapolres Lamongan, ia menekankan pentingnya empati dan pelayanan yang setara bagi masyarakat.

Menyamar Jadi Warga Biasa

Pengalaman tersebut terjadi sekitar enam tahun lalu ketika sepeda miliknya dicuri orang. Ia kemudian datang ke kantor polisi untuk membuat laporan tanpa menyebutkan identitasnya sebagai anggota Polri. Saat tiba di kantor polisi, ia diterima oleh petugas piket. Namun, perlakuan yang diterimanya jauh dari harapan. Petugas tampak tidak serius, bahkan tidak mempersilakannya duduk.

“Dia mukanya itu masih enggak serius. Saya masih berdiri, disuruh duduk aja belum,” kenangnya. Arif menegaskan bahwa pada saat itu ia benar-benar berposisi sebagai masyarakat biasa. Tidak ada seragam, tidak ada pangkat, tidak ada pengenalan diri. “Saya enggak ngomong kalau saya polisi,” ujarnya.

Alih-alih langsung membantu, petugas justru menanyakan harga sepeda yang hilang. “Emang berapa harganya?” kata Arif menirukan ucapan oknum tersebut. Pertanyaan itu menjadi titik yang membuat emosinya meledak. Ia merasa persoalan kejahatan diremehkan hanya karena nilai barang dianggap tidak besar.

“Di situ hati saya hancur. Saya marah besar,” tuturnya. Ia pun akhirnya meluapkan emosinya dan meminta petugas memanggil Kapolsek. “Woi brengsek kamu. Panggil Kapolsekmu. Saya pernah jadi Kapolsek,” kata Arif menirukan ucapannya kala itu. Mendengar pengakuan tersebut, sikap petugas berubah drastis.

Pesan Empati untuk Anggota Polri

AKBP Arif mengaku tidak bangga dengan kemarahannya saat itu. Namun pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya tentang bagaimana rasanya berada di posisi masyarakat kecil yang membutuhkan pertolongan. Ia menegaskan bahwa pelayanan kepolisian tidak boleh diukur dari nilai materi kerugian.

“Jangan meremehkan masalah orang. Jangan dianggap enteng,” tegasnya. Menurutnya, barang dengan nilai kecil sekalipun bisa sangat berarti bagi pemiliknya. “Ada yang nilainya secara rupiah murah, tapi barang tersebut sangat penting bagi hidupnya,” ujarnya.

Ia berharap kisah ini menjadi pengingat bagi seluruh anggota Polri agar selalu mengedepankan empati, sikap humanis, dan profesionalisme. “Sekarang mestinya sudah tidak ada lagi oknum yang mengabaikan laporan masyarakat,” tandasnya.

Latar Belakang Religius dan Pendidikan Pesantren

Di balik ketegasannya, AKBP Arif Fazlurrahman dikenal memiliki latar belakang religius yang kuat. Ia lahir di Jakarta pada 9 Juni 1984 dan menghabiskan masa remajanya sebagai santri di Pondok Pesantren Assalam, Solo. Di pesantren tersebut, Arif menempuh pendidikan tingkat MTs dan MA.

Pengalaman nyantri itulah yang membentuk karakter disiplin, kesederhanaan, serta empati sosial yang masih melekat hingga kini. Nilai-nilai pesantren itu pula yang kerap ia terapkan dalam kepemimpinan, baik dalam membina anggota maupun saat berinteraksi dengan masyarakat.

Karier Panjang di Kepolisian

AKBP Arif merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2005. Sepanjang kariernya, ia telah menduduki berbagai posisi strategis. Pada 2018, ia dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namanya kemudian dikenal luas saat menjadi Kasatgas Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) di Ditlantas Polda Metro Jaya pada 2020.

Melalui E-TLE, Arif terlibat langsung dalam transformasi sistem penegakan hukum lalu lintas berbasis teknologi yang transparan dan minim interaksi langsung. Setelah itu, ia menjabat sebagai Kabag Binopsnal Ditlantas Polda Jawa Timur, lalu dipercaya sebagai Kasatlantas Polrestabes Surabaya.

Di Kota Pahlawan, Arif dikenal aktif mengampanyekan edukasi keselamatan berlalu lintas dan inovasi pelayanan publik.

Dari Blitar ke Lamongan

Pada 14 Januari 2025, AKBP Arif resmi dilantik sebagai Kapolres Blitar. Selama menjabat, ia dikenal dekat dengan tokoh masyarakat dan aktif turun ke lapangan. Kurang lebih satu tahun kemudian, Arif kembali mendapat amanah baru. Ia dimutasi menjadi Kapolres Lamongan, menggantikan AKBP Agus Dwi Suryanto.

Serah terima jabatan digelar di Mapolda Jawa Timur pada Senin (12/1/2026). Di Lamongan, Arif membawa semangat pembenahan pelayanan publik, khususnya pelayanan kepolisian yang humanis dan responsif terhadap keluhan masyarakat.

Polisi Harus Hadir dengan Hati

Kisah viral AKBP Arif Fazlurrahman bukan sekadar cerita kemarahan seorang perwira. Lebih dari itu, kisah tersebut menjadi cermin bagi institusi kepolisian tentang pentingnya empati dan pelayanan yang setara bagi semua warga. Bagi Arif, menjadi polisi bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga tentang kehadiran negara di tengah masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.

“Kalau kita ingin dipercaya, kita harus melayani dengan hati,” ucapnya dalam salah satu pernyataannya. Pengalaman pahit yang ia alami justru menjadi penguat komitmennya untuk memastikan, di bawah kepemimpinannya, tidak ada lagi masyarakat yang pulang dari kantor polisi dengan rasa kecewa.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?