Hukum  

3 Kebiasaan Norida WN Malaysia yang Dikira 18 Tahun Ditinggalkan Suami di NTB, Badi Marah: Tidak Benar

Pengakuan Norida dan Pembantahan Mantan Suaminya

Norida, seorang warga negara Malaysia, mengungkapkan bahwa ia selama 18 tahun hidup dalam kondisi serba kekurangan karena ditelantarkan oleh suaminya yang berasal dari Indonesia. Ia menyebut bahwa ia harus bekerja sebagai petugas kebersihan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi dua anaknya.

Namun, pernyataan ini dibantah oleh mantan suaminya, Akmal Ayob. Pria asal Lombok itu menegaskan bahwa cerita yang disampaikan Norida tidak sesuai dengan fakta versinya. Ia membantah keras tuduhan telah menelantarkan mantan istri dan anak-anaknya.

Pernyataan Akmal Ayob membuka babak baru polemik yang kini menjadi perhatian publik di dua negara. Dalam wawancara yang dilakukan di kanal Tribun Lombok, Akmal mengungkap tiga kebohongan yang diduga dilakukan oleh Norida. Pertama, ia menyebut bahwa Norida tidak pernah menjadi petugas kebersihan seperti yang diberitakan. Selama menikah dengannya, Akmal mengaku tidak pernah membolehkan Norida untuk bekerja.

Selama 10 tahun lebih hidup di Lombok bersama anak istri, Akmal menyebut hidupnya harmonis. Hingga di tahun 2023 lalu, ia memutuskan untuk menceraikan Norida lalu menikah lagi. Kendati sudah bercerai, Akmal menegaskan bahwa ia tidak pernah sekalipun menelantarkan Norida.

“Selama saya nikah sama Norida Asma ini, 18 tahun enggak pernah saya telantarkan. Setelah saya cerai kemarin sekitar 1 tahun delapan bulan, itu pun masih saya yang bertanggung jawab selagi dia masih di sini,” ujar Akmal.

“Saya berangkat nyebrang ke mana, itu saya titipkan sama anak saya sendiri. Tapi kalau masalah telantarkan selama 18 tahun itu bohong, tetap kita nafkahi,” tambahnya.

Akmal juga mengungkap fakta lain terkait kepulangan Norida ke Malaysia. Ia mengakui bahwa sempat memberikan uang puluhan juta untuk sang mantan istri. Hal itu ia lakukan karena sudah janji bakal bertanggung jawab atas nasib Norida.

“Saya sudah janji, setelah bercerai saya yang akan bertanggung jawab antar dia sampai ke sana. Tapi ada pihak yang enggak mau terima, karena apa enggak tahu saya, dia sendiri yang minta pulang ke sana. Saya kasih lah uang ongkos ke sana, walaupun saya sudah cerai, tetap saya nafkahi selama dia di Lombok,” ujarnya.

Kini disebut jahat ke Norida hingga menelantarkannya, Akmal merasa sedih sekaligus syok. “Saya sedih mendengar berita ini. Dia kan (netizen) belum tahu ceritanya yang sebenarnya dari mantan suaminya. Dia belum tahu kepastiannya apa,” akui Akmal.

Pengakuan Norida

Sebelumnya, kisah Norida viral usai pengakuannya jadi sorotan media Malaysia. Dalam narasi di artikel Malaysia tersebut, Wakil Menteri Dalam Negeri Datuk Seri Dr Shamsul Anuar Nasarah mengatakan Norida awalnya pindah ke Lombok bersama suaminya dan anak pertamanya. Tapi setelah Norida cerai dari suaminya, hidupnya di Lombok sengsara.

Demi menafkahi dua anaknya, Norida haus bekerja menjadi petugas kebersihan. “Namun, pernikahan itu berakhir, dan Norida jatuh miskin. Ia bekerja sebagai petugas kebersihan untuk menghidupi anak-anaknya setelah suaminya menikah lagi dan meninggalkannya,” kata Shamsul dalam sebuah unggahan Facebook.

Sebelum viral, Norida kabarnya sempat membuat permohonan kepada keluarganya agar pemerintah Malaysia turun tangan untuk membawanya pulang. Norida mengaku selama ini hidup dalam ketakutan terus-menerus setelah menerima ancaman kematian dari mantan suaminya.

Shamsul yang bertemu dengan keluarga Norida untuk membahas kesulitan yang dialaminya, mengatakan bahwa anak-anaknya tidak dapat bersekolah dan diabaikan. “Alhamdulillah, mereka sekarang telah kembali dengan selamat ke rumah setelah hampir dua dekade terpisah dari keluarga mereka,” katanya.

Diungkap Shamsul, misi pemulangan Norida dan anak-anaknya, Nur Fateen Akmadiana dan Muhamad Sabani Daniel, merupakan upaya terkoordinasi antara Wisma Putra, Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia, Departemen Imigrasi, dan otoritas Indonesia.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?