Penyiraman Air Keras ke Aktivis: Tudingan Keterlibatan BAIS dan Persoalan Transparansi
Hendardi, Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, menyampaikan pernyataan tajam terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Ia menilai keterlibatan empat anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dalam kejadian tersebut sebagai indikasi serius dari penyalahgunaan wewenang yang berpotensi merusak fungsi intelijen negara.
“Fungsi intelijen adalah menjadi mata dan telinga negara untuk mendeteksi ancaman, bukan menjadi tangan yang menyiramkan air keras ke wajah aktivis,” ujar Hendardi, yang menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk penyimpangan yang sangat serius dari tugas intelijen militer.
Penyimpangan Tugas hingga Efek Teror Sistematis
Menurut Hendardi, fungsi intelijen seharusnya berada pada jalur pertahanan negara, bukan alat represif terhadap warga sipil. Ia mengingatkan bahwa lembaga intelijen dibekali kewenangan, sumber daya, dan kemampuan khusus untuk mendeteksi ancaman strategis. Namun, penggunaannya untuk menyerang warga sipil dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap mandat negara.
Ia juga menyoroti bahwa tindakan kekerasan seperti penyiraman air keras bukan sekadar tindak kriminal, tetapi juga menciptakan efek teror yang luas. Aksi semacam ini berpotensi menimbulkan ketakutan sistematis bagi masyarakat sipil, terutama mereka yang aktif mengkritik pemerintah atau institusi militer.
Dalam konteks ini, Hendardi menekankan pentingnya transparansi dalam penanganan kasus. Ia menolak jika proses hukum hanya dilakukan secara internal tanpa akuntabilitas publik.
Alarm Keras untuk Panglima TNI
Pernyataan Hendardi menjadi tekanan langsung bagi institusi TNI, khususnya pimpinan tertinggi. Kasus ini dinilai sebagai ujian serius terhadap komitmen reformasi dan profesionalisme militer. Sorotan publik kini tertuju pada langkah yang akan diambil oleh pimpinan TNI, termasuk apakah proses hukum akan menyentuh aktor intelektual di balik kasus ini.
Sebelumnya, Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) Mabes TNI, Yusri Nuryanto, mengungkap dalam jumpa pers bahwa empat pelaku berasal dari BAIS TNI.

Hendardi pun mendesak agar tidak hanya pelaku lapangan yang diproses, tetapi juga pihak-pihak yang memberi perintah. “Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kepala BAIS harus diperiksa oleh TGPF dan dimintai pertanggungjawaban atas keterlibatan prajurit di bawah komandonya,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) oleh Presiden Prabowo Subianto guna memastikan investigasi berjalan objektif dan menyeluruh.
Identifikasi Pelaku dan Kontroversi AI
Penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus memasuki babak baru. Polda Metro Jaya akhirnya mengungkap identitas awal para terduga pelaku. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin, menyebut dua dari empat pelaku telah teridentifikasi melalui analisis rekaman CCTV serta pemeriksaan sejumlah saksi.
“Dari satu data Polri ini, satu inisial BHC dan dua Inisial MAK,” kata Iman dalam konferensi pers di Jakarta. Dalam konferensi pers tersebut, polisi turut menampilkan potongan gambar yang memperlihatkan wajah terduga pelaku, terutama yang diduga sebagai eksekutor.
Polisi juga memaparkan pergerakan pelaku sebelum dan sesudah kejadian. Salah satu temuan penting adalah adanya pergantian pakaian setelah aksi dilakukan, yang memperkuat dugaan perencanaan matang.
Polisi Tegaskan Bukan Hasil AI
Pihak kepolisian memastikan bahwa gambar wajah pelaku yang beredar bukan hasil manipulasi teknologi. “Ini hasil gambar yang kami peroleh, ini sama sekali tidak kami lakukan perubahan atau pengolahan. Sehingga kami dapat dipertanggungjawabkan ini bukan hasil AI,” ucapnya.
Meski demikian, polisi belum mengungkap apakah para pelaku telah diamankan atau masih dalam pengejaran.
Sempat Beredar Foto Pelaku Hasil AI
Sebelumnya, di tengah upaya pencarian pelaku, media sosial tengah dihebohkan dengan foto wajah pria diduga pelaku. Foto tersebut kali pertama diunggah oleh akun X (dulu Twitter) @Robe1807, Sabtu (14/3/2026). Dalam unggahannya, akun tersebut juga menyertakan tangkapan layar dari akun resmi United Nations Human Rights Office yang menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Andrie.
Foto yang beredar menampilkan dua pria yang berboncengan sepeda motor. Pengendara di depan terlihat mengenakan topi biru muda dan helm hitam, sementara pria di belakang memakai kemeja biru tua tanpa helm.
Terkait foto itu, AKBP Roby Saputra memastikan hasil olahan artificial intelligence (AI). “Kami terganggu dengan editing foto ini karena mendistrak ciri-ciri pelaku sebenarnya,” ujar Roby.
Penyidik menemukan sejumlah kejanggalan pada foto tersebut. Misalnya, pada bahu kanan pengendara yang tampak seperti membawa tas ransel, tetapi tidak terlihat tas di bagian punggungnya. Bentuk tangan yang mengepal di bagian pinggang kanan pengendara juga dinilai tidak wajar.
“Belum ke sana (pengunggah foto editan AI). Kami prioritaskan yang lebih utama ungkap perkara penyiraman air kerasnya,” tegas Roby.
Sementara Kapolda Metro Jaya, Asep Edi Suheri, meminta masyarakat bersabar. “Masih dilakukan pendalaman, ya. Anggota saya masih bekerja, doakan saja bisa terungkap dengan cepat,” kata Asep.
Saat ini, tim digital forensik tengah menelusuri identitas pelaku melalui rekaman CCTV asli di sekitar Jalan Salemba I–Talang, Senen. “(Identitas pelaku) masih dalam penyidikan,” tutur Roby.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












