Tim Teknisi ATR akan Mengunjungi Pegunungan Bulusaraung
Manajemen pabrikan pesawat ATR 42-500 di Toulouse, Perancis, telah mengumumkan rencana untuk mengirimkan tim teknisi spesialis insiden ke pegunungan Bulusaraung. Lokasi ini berada di ketinggian sekitar 1.535 mdpl dan terletak di perbatasan tiga kabupaten di Sulawesi Selatan, yaitu Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Maros, serta Bone.
Rencana pengiriman ini disampaikan oleh Media Relation ATR, Charlotte GIURIA dan Jeanne CAUMONT, melalui siaran pers yang dirilis pada situs resmi perusahaan. Rencana ini dilakukan sebagai bagian dari upaya mendukung investigasi kecelakaan yang sedang berlangsung bersama dengan tim dan operator di Indonesia.
“Tim spesialis kami akan bergabung dan mendukung penuh investigasi kecelakaan ini bersama tim dan operator di Indonesia,” demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh ATR.
Hingga saat ini, penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan. Di sisi lain, operasi pencarian dan pertolongan (SAR) skala besar dan nasional telah dimulai sejak pagi hari. Wartawan Tribun, Fahrizal Syam, yang berada di Balocci, sekitar 10 km dari Posko Bulusaraung, menyebut bahwa tim SAR dari berbagai unsur menghadapi medan yang berat dan akses yang terbatas. Kondisi hujan dan halimun pagi yang tebal juga memperparah kesulitan dalam proses pencarian.
Manajemen ATR Menyampaikan Bela Sungkawa
Manajemen ATR menyatakan prihatin atas insiden ini. Pesawat seri ATR 42 dan 72 termasuk salah satu pesawat propeller yang paling laris di segmen 90 kursi ke bawah. Pesawat jenis ini dioperasikan oleh lebih dari 200 maskapai di 100 negara, termasuk Pt Indonesia Air Transport, yang memiliki nomor IATA registrasi PK-THT.
Pesawat yang dibuat pada tahun 2000 ini menggunakan mesin Pratt & Whitney Canada PW127. Sejak 2025, pesawat ini disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
Sebanyak 10 orang, termasuk 7 awak dan 3 penumpang, dari kementerian kelautan dan perikanan dilaporkan ikut dalam misi penerbangan surveilance ini. Tiga penumpang adalah pegawai Badan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), yang dijadwalkan melakukan survei udara di Pesisir Selat Makassar.
Mereka sudah menjalankan misi patroli udara potensi perikanan dan kelautan dari udara di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, dan Sulawesi Selatan. Pesawat dipiloti oleh Capt Andy Hanantara (53) yang berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta (JOG) sekitar pukul 09.00 WIB. Pesawat terbang menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar (UPG) dan dilaporkan hilang Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.22 WITA.
Hingga saat ini, belum ada laporan apakah ada penumpang yang selamat atau meninggal dunia. Sejumlah serpihan pesawat dan titik api ditemukan di punggung gunung tertinggi ke-6 di Sulsel ini. Namun, sejumlah pihak di lokasi pencarian meyakini para penumpang dan awak susah selamat.
Proses Pencarian Masih Berlangsung
“Semoga ada mukjizat,” kata Kepala SAR BPBD Pangkep Akbar Yunus, kepada Tribun, Minggu (18/1/2026) dini hari di Pangkep.
SAR lokal melaporkan bahwa seorang pendaki bernama Rezki, asal Pattalassang, Labakkang, Pangkep, merekam pesawat saat oleng di bahu gunung, dan mengaku menemukan dokumen, logo KKP, dan puing pesawat. “Meski kami agak ragu sebab besi temuannya sudah berkarat,” kata Akbar.
Riski, sang pendaki, dilaporkan bicara via telepon dengan Asriadi Alwi, tim TRC SAR Pangkep. Fokus pencarian hari ini adalah pada 10 awak dan penumpang, termasuk black box dan ETL.
Otoritas penerbangan menegaskan bahwa informasi beredar masih bersifat awal. Ini merujuk pada laporan media, media sosial, serta sumber tidak resmi. KNKT Kemenhub akan terus memperbaharui info lapangan setelah investigasi lanjutan oleh pihak berwenang.
Proses pencarian masih berlangsung hingga Minggu (18/1/2026) pagi. Lebih dari 500 personel SAR gabungan dari TNI, Polri, SAR daerah, dan warga bergerak menyusur sisi gunung karst Geopark, hutan vegetasi basah di Taman Nasional Bantimurung, dan Hutan Lindung Karaengta di perbatasan tiga kabupaten beradius 27 hingga 61 km tenggara Kota Makassar.
Informasi Awal dari Otoritas Penerbangan
Kementerian Perhubungan melalui laporan awal menyebutkan bahwa pukul 04.23 UTC atau 11.23 WITA, pesawat telah memperoleh izin pendekatan (approach clearance) dari Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk mendarat di Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin.
Namun, saat fase pendekatan, pengatur lalu lintas udara (ATC) mendeteksi bahwa pesawat tidak berada pada jalur pendekatan yang semestinya. ATC kemudian menginstruksikan koreksi posisi dan jalur penerbangan kepada awak pesawat. Beberapa instruksi tambahan juga sempat dikeluarkan untuk mengarahkan kembali pesawat ke jalur aman dan terkonfirmasi.
“Kontak dengan pesawat hilang setelah instruksi terakhir disampaikan,” demikian keterangan awal dari AirNav Indonesia Cabang MATSC, Makassar.
Berdasarkan data AirNav, kontak terakhir dengan pesawat tercatat pada koordinat 04°57’08” Lintang Selatan dan 119°42’54” Bujur Timur, atau sekitar 21 kilometer timur laut dari Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Titik tersebut berada di wilayah pegunungan yang dikenal memiliki kontur terjal dan cuaca yang cepat berubah.
Pesawat akhirnya ditemukan dalam kondisi hancur total (destroyed) di kawasan pegunungan Bulusaraung, sekitar 63 km tenggara Makassar.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."












