Pernikahan Sesama Jenis di Malang yang Viral dan Berujung Laporan Hukum
Pernikahan sesama jenis yang dilakukan oleh Intan Anggraeni dengan Erfastino Reynaldi Malawat atau lebih dikenal sebagai Rey menjadi perbincangan publik. Peristiwa ini terjadi pada 3 April 2026, dan kini menjadi sorotan karena berbagai isu hukum yang muncul.
Intan, warga Polehan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, menikah secara siri dengan Rey. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pengakuan Intan bahwa dirinya sempat diminta untuk segera mengurus paspor sebelum pernikahan, dengan alasan akan diajak ke Thailand. Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya tentang tujuan sebenarnya dari permintaan tersebut.
Setelah pernikahan viral di media sosial, kasus ini berbuntut panjang. Intan bersama kuasa hukumnya melaporkan kasus ini ke Polresta Malang Kota. Laporan tersebut terkait dugaan pemalsuan identitas dan dokumen. Di baliknya, Rey juga membuat laporan ke Polres Batu, mengklaim adanya pencemaran nama baik dan pemerasan.
Tudingan dan Penyangkalan
Rey, yang lebih dikenal dengan nama Yupi Rere, mengatakan bahwa ia tidak pernah memalsukan dokumen. Ia menegaskan bahwa identitas yang digunakan adalah asli. Selain itu, Rey membantah tudingan intimidasi atau ancaman terhadap Intan.
“Kami sudah membuat laporan ke Polres Batu. Laporan ini terkait pencemaran nama baik dan pemerasan,” kata Rey. Ia juga menyatakan bahwa ada beberapa kasus lain yang sedang diproses oleh kuasa hukumnya.
Sebelum membuat laporan balik, Rey mencoba melakukan mediasi dengan mendatangi rumah Intan. Namun, karena tidak mendapatkan respons, ia akhirnya melaporkan kembali Intan.
Dugaan Indikasi Pidana Lain
Intan mengaku merasa tertipu oleh identitas gender ‘suaminya’ yang ternyata seorang perempuan. Selain itu, ia juga khawatir adanya indikasi pidana lain. Kecurigaan itu muncul setelah ia menyadari dirinya diminta untuk segera mengurus paspor sebelum menikah, dengan alasan akan diboyong ke Thailand.
“Sebelum menikah itu saya sempat diminta untuk cepat-cepat membuat paspor. Katanya mau diajak ke Thailand. Tapi saya enggak tahu di sana mau diajak liburan atau apa,” ujar Intan.
Perwakilan keluarga, Eko NS, mengatakan pihaknya telah melaporkan kasus ini ke kepolisian dengan dugaan utama pemalsuan dokumen. Keluarga juga mencium adanya indikasi lain yang mencurigakan, karena sebelum pernikahan Intan sempat diminta mengurus paspor dengan alasan akan diajak ke luar negeri.
“Kita juga khawatir ada indikasi lain. Korban sempat diminta membuat paspor untuk diajak ke Kamboja, katanya untuk berobat. Ini yang membuat kita curiga,” ujarnya.
Penjelasan Kasatreskrim
Kasatreskrim Polresta Malang Kota, AKP Rahmad Aji Prabowo, membenarkan laporan tersebut. Ia memastikan pihaknya tengah melakukan pendalaman lebih lanjut terkait kasus ini.
“Benar laporan sudah kami terima. Saat ini kasus sedang kita dalami lebih lanjut,” ungkapnya.
Sementara itu, ayah Intan, Sodiq, mengaku tidak menaruh rasa curiga sama sekali, meskipun Rey sering datang ke rumahnya. “Tahunya dia (pelaku) laki-laki. Karena dari suara, postur tubuh itu ya mirip seperti laki-laki,” katanya.
Rey Mengaku Sering Lunasi Utang Intan
Rey merasa dimanfaatkan secara finansial setelah sebelumnya kerap membantu melunasi utang-utang Intan. Menurut Rey, pihak Intan dan keluarga sudah mengetahui identitasnya sebagai perempuan, hingga terjadilah pernikahan siri yang digelar pada 3 April 2026.
“Dari awal dia sudah tahu identitas saya, bahkan keluarganya juga tahu,” ujarnya. “Dia sering ke rumah saya, teman-temannya juga tahu. Jadi kalau dibilang baru tahu setelah menikah, itu tidak benar.”
Rey juga menyebut adanya dugaan motif ekonomi di balik hubungan tersebut. Ia sengaja menghentikan pemberian uang selama empat hari untuk menguji situasi, dan dari situ menurutnya konflik mulai muncul hingga berujung pada laporan ke polisi.
“Bukti transfer ada banyak, bukan cuma satu atau dua. Saya juga yang menutup beberapa utangnya. Kalau ditaksir, yang saya berikan kepada Vela sekitar Rp200 juta,” katanya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












